Dewan Pengawas LBH PERPUKAD, Mario Andreansyah, SH, MH, CM dan Wayan Saka, SH, MH. Serta Ferry Juan, SH. Sebagai Kuasa Hukum Lirabica Finalis Miss Earth 2019.

JAKARTA (GLOBALDRAFNEWS.COM) – Lirabica yang merupakan finalis Miss Earth 2019 mengklaim dirinya dapat persekusi dari warga sekitar komplek/klaster tempat tinggalnya. Dia dilabrak karena dilirik cowok saat joging (Lari Pagi).

Kejadian itu berawal dari kegiatan olahraga Lirabica setiap hari dengan berlari di sekitar perumahannya/Kompleknya.

Dia mengatakan menurut warga saat itu banyak laki-laki yang meliriknya sehingga para istri-istri sekitar merasa geram.

Soal penampilan saat lari pagi, Lirabica mengaku tak sama sekali menggunakan pakaian seksi. Lirabica mengaku menggunakan pakaian sopan tertutup dan sewajarnya seperti orang yang sedang lari pagi pada umumnya.

“(Pakaian) Saya sangat sopan, tidak terbuka, dan tidak ketat,” ujar Lirabica saat ditemui awak media di kawasan Antasari, Jakarta Selatan, pada Senin (13/9/2021).

Lirabica mengaku juga bukan satu-satunya orang yang sering berolahraga di sekitar daerah perumahannya/Komplek tersebut, banyak juga warga sekitar rumahnya yang berolahraga saat pagi hari.

Meski begitu, Lirabica mengaku memang hanya dia yang lebih muda dan belum berkeluarga.

Lirabica juga menegaskan bahwa dirinya yang paling muda di antara warga lainnya.

“Saya tidak gimana-gimana, banyak yang olahraga, tapi saya yang paling muda di sana,” ujar Lirabica.

Lebih lanjut Lirabica menjelaskan, ia tinggal di perumahan itu bersama orang tua (Mama) sejak 2018. Selama itu ia tak banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

Saat olahraga, Lirabica memilih untuk pergi ke tempat gym. Namun, dimasa pandemi Covid-19, gym terpaksa harus ditutup sementara.

Lirabica pun baru mulai menjalani kegiatan olahraganya di sekitar rumah.

“Tinggal sejak 2018. Munculnya konflik itu, saya biasanya olahraga di gym, lalu karena pandemi ini ya saya lari pagi (joging) di sekitar situ (perumahannya)” ungkap Lirabica.

Sementara itu, Lirabica juga mengaku jarang bergaul dengan tetangga sekitar rumahnya selama tinggal di sana. Ia sempat ditawari beberapa kegiatan, tapi enggan mengikuti karena alasan tertentu.

Namun, Lirabica menegaskan, bukan tak sama sekali bergaul. Ia tetap bergaul, tapi tidak terlalu dekat dengan tetangga sekitar.

“Saya nggak pernah bergaul, nggak pernah ikut apa-apa di sana. Bahkan ada yang tanya, ‘Kenapa nggak ikut arisan?’. Ya nggak aja, nggak perlu ikut-ikut apa gitu,” tutur Lirabica.

“Tetap ada (bersosialisasi), tapi nggak terlalu dekat,” akunya.

Ferry Juan, SH selaku Kuasa hukum Lirabica, menjelaskan, “Klien kita ini sangat unik masalahnya, dikarenakan Ibu Lira joging (lari pagi) disekitar komplek tempat tinggalnya, tiba- tiba para suami tetangganya yang ada di komplek tersebut ikutan joging juga, akibat kejadian tersebut klien kita diserang/didatangi oleh ibu-ibu dirumahnya, lalu dilontarkan lah segala macam Kata-kata tidak pantas, dengan menuduh Ibu Lira (klien kita) ini, yang bukan-bukan, padahal Ibu Lira ini berkata “apakah saya salah”,menjadi seorang yang cantik,” katanya menirukan Ibu Lira.

“Juga termasuk salah satu pak RT, yang seharusnya sebagai pengurus komplek bisa mengayomi dan membina warganya. tentunya jika ada warga yang salah bisa di nasehati. Namun, nyatanya ikut juga menyerang klien kita ini,” ujarnya.

“Oleh sebab itu, Ibu Lira sebagai klien kita sudah membuat laporan polisi terkait dengan serangan dari pak RT dan beberapa warga lainnya,” terangnya.

Ditempat yang sama Kuasa Hukum Lirabica yakni, Mario Andreansyah, SH, MH, CM dan didampingi Wayan Saka, SH,MH yang Juga Selaku Dewan Pengawas serta Wakil Ketua Dewan Pengawas LBH PERPUKAD, ini menjelaskan, “Kami selaku kuasa hukum dari saudara Lira akan menyampaikan dugaan korban persekusi yang dialami oleh klien kami ini, yang mana peristiwanya terjadi di Kota Wisata Gunung Putri Bogor, pada Tanggal 29 Mei 2021 lalu, setelah terjadi peristiwa tersebut, klien bersam kuasa hukumnya sudah melaporkan ke Polres Bogor, dengan Nomor STPL/2021/7/2021, Jawa barat Polres Bogor,” jelasnya.

“Adapun kronologis kejadiannya, yang mana klien kami Ibu Lira ini, dan keluarganya merasa sangat sok pada kejadian tersebut, yang mana rumah saya dimasuki oleh warga,” terangnya.

Dalam hal ini Lirabica kembali mengungkapkan, peristiwa terjadi yang menimpa dirinya, “mereka berniat persekusi saya dengan kata-kata yang tidak senonoh, tuduhan, fitnah segala macam, yang mana berawal saya melakukan olahraga didalam komplek perumahan saya, bahkan saya tidak mengerti salah saya apa, sedangkan saya tidak membuat salah dan tidak pernah saya lakukan tapi mereka (warga) mempersekusi saya, dengan memfitnah dengan kata-kata yang tidak baik,” ungkapnya.

“Pada saat itu sekitar pukul 10.00 wib pagi, mereka datang kerumah dan ada orang tua saya sambil memukuli kursi, kemudian saya pun dipukul. Semua itu mereka lakukan terhadap saya,” ujarnya.

“Mereka yang datang banyak lebih dari 10 Orang, hingga masuk kedalam rumah. Dengan mencaci-maki, dan mengeluarkan kata kasar yang tidak senonoh, kemudian mereka juga ingin mengusir saya, “pergi, keluar dari klaster ini, kata warga,” ucap Lira menirukan warga.

“Hingga setelah kejadian ini yang mengakibatkan saya dan orang tua sangat sangat sok, merasa tidak berdaya, sehingga saya melaporkan masalah ini, saya berharap kepada aparat penegak hukum bisa membantu,” pintanya.

Selanjutnya Lira juga menceritakan, Selain setelah kejadian tersebut pada bulan Agustus 2021,diduga ada oknum/orang Ambon datang gedor-gedor, rumah dengan mengatakan, keluar-keluar saya akan awasi, hingga menghubungi pihak Polres dan Polsek sampai datang semua.

“Ada orang/oknum di klaster tersebut memberikan uang sebesar 500 ribu rupiah, bahkan satpam juga nomornya tidak aktif,” jelasnya.

Dengan adanya tudingan tersebut, dugaan sementara ada 5 orang yang dilaporkan ke pihak kepolisian. (Draf/Detik)